Monday, September 26, 2016

Budaya Pemerkosaan, Apakah ini Tren?

“Peristiwa ini sangat diluar batas kemanusiaan,” kata Wakil Ketua LPSK Hasto Atmojo Suroyo. Mendengar kata-kata itu munculah rasa penasaran, apa yang sebenarnya terjadi? Kejadian tragis dan tidak berperikemanusiaan menimpa gadis malang bernama Yuyun. Usianya masih 14 tahun, baru saja menginjak bangku SMP di Bengkulu, Sumatera Selatan. Nahas, nyawanya direnggut oleh 14 laki-laki tak bertanggung jawab dengan brutal.

Kasus Yuyun sangat keji. Betapa tidak, Yuyun diperkosa ramai-ramai sampai tewas.  Kaki Yuyun dipotong kemudian jenazahnya dibuang. Pada hari Sabtu, 2 April 2016, Yuyun yang sedang menempuh perjalanan pulang sekolah pada siang hari melintasi kebun karet di daerah Lembak, kabupaten Rejang Lembong, Bengkulu bertemu dengan 14 pria mabuk. Awalnya, para pria menggoda Yuyun tetapi ia tidak menggubrisnya. Ketika salah seorang pemuda menarik tangannya, Yuyun bisa menepisnya. Tetapi, ketika empat pemuda lain menyeretnya ke kebun karet, ia tak mampu melawan. Sepuluh orang lainnya merobek seragam pramuka Yuyun dan memukul kepalanya dengan kayu. Yuyun pingsan.

Tak hanya itu penderitaan Yuyun, ia diperkosa secara bergiliran oleh 14 pria biadab sampai mati. Hasil visum dokter menunjukkan dubur dan kemaluan Yuyun rusak  akibat diperkosa pelaku. Sungguh imoral perbuatan para pria tersebut terhadap Yuyun. Mereka berpikir dan bertindak layaknya binatang, tidak memiliki akal budi dan hati nurani.  Bayangkan saja, beberapa dari pelaku memperkosa Yuyun berulang kali. Bahkan ada yang sampai tiga kali. Meski pada saat Yuyun sudah tak bernyawa, pelaku tetap meluncurkan aksi bejatnya. Mereka tidak sadar Yuyun telah mati saat  diperkosa. Sebagai manusia yang masih memiliki hati dan akal budi, apakah Anda mampu menerima hal ini? Melihat dan mendengar gadis kecil, masih polos dan muda, meninggalkan dunia dengan cara yang sungguh tak layak.  

Mengapa perempuan yang selalu menjadi korban? Bukan hanya Yuyun, gadis berumur 18 tahun bernama Eno Parinah diperkosa oleh tiga pemuda di Tangerang. Tanpa hati nurani, pemerkosa ini membunuh Eno dengan memasukkan gagang cangkul ke liang kemaluannya hingga menembus paru-paru. Apa yang salah dengan negeri ini? Dimana pikiran mereka semua? Budaya Patriarki telah meresap begitu dalam di kehidupan manusia hingga mereka kehilangan moralitas. Kekuasaan laki-laki pada aspek kehidupan menyebabkan muculnya tindakan subordinasi yang diluar batas kewajaran. Kerugian terletak pada kaum wanita yang dipandang sebelah mata, dianggap sebagai objek kekerasan. Apa karena perempuan lemah? Apa karena perempuan tidak berdaya? Saya sebagai perempuan merasa ngeri, betapa buruknya efek budaya Patriarki terhadap perempuan. Selalu perempuan yang dijadikan korban objek kekerasan dari para pria. Sungguh miris.  
Sebagian laki-laki menganggap bahwa kekuasaan dan kekerasan merupakan bentuk kemampuan dalam mendominasi dan mengendalikan orang lain. Menurut Michael Kaufman, seorang aktivis di Kanada yang memimpin kampanye “Pita Putih”, mengungkapkan faktor-faktor di balik kekerasan terhadap perempuan. Sedikitnya ada tiga faktor yang merupakan amunisi laki-laki dalam memperlihatkan otoritasnya, yaitu kekuasaan patriarki (patriarki power) dan hak-hak istimewa (privilege). Kekuasaan Patriarki adalah faktor yang memiliki andil besar terhadap kekerasan perempuan. Dalam budaya Patriarki terjadi subordinasi dan kesenjangan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan serta dominasi. Kekerasan terhadap perempuan senantiasa langgeng terjadi karena perempuan dengan tubuhnya seringkali dijadikan sebagai objek, makhluk sekunder, dapat diperlakukan seenaknya dan dapat menjadi hak milik seseorang.
Dalam kasus Yuyun, pelaku ingin menunjukkan otoritasnya dengan melakukan tindakan semena-mena. Mereka ingin dipandang sebagai seorang manusia yang kuat dan mampu menindas kaum yang lebih lemah. Kekuasaan patriarki ditunjukkan oleh pelaku yang semuanya adalah laki-laki melalui tindakan mereka. Para pelaku memanfaatkan hak istimewa mereka sebagai lelaki yaitu kekuasaan dan dominasi atas apapun yang diinginkan. Mereka ingin memuaskan nafsu bejat dan perempuan merupakan korban yang lunak. Dengan memiliki paradigma laki-laki sebagai makhluk superior didorong dengan pengaruh alkohol dan pornografi membuat para pelaku hilang kesadaran dan bertindak diluar batas kemanusiaan.
Sungguh biadab perbuatan para pelaku. Seharusnya mereka, sebagai senior mampu menjaga Yuyun sebagai junior mereka, bukan malah memperkosa dan membunuhnya. Apakah ini gambaran masa depan generasi penerus kita? Emosional, kekerasan, narkoba, minuman keras dan seks bebas. Apakah kita tidak bisa melahirkan generasi bermoral? Lalu siapa yang harus disalahkan? Siapa yang harus bertanggung jawab atas kejadian ini?

Pemerintah memang sudah menunjukkan keperdulian mereka terhadap kasus ini dengan menerjunkan langsung Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yambise yang sudah mengunjungi keluarga Yuyun untuk memberikan dukungan baik secara moral maupun materi kepada keluarga Yuyun yang merasa trauma atas kejadian ini. Namun, implementasi dari regulasi yang ditetapkan Pemerintah tentang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak masih sangat minim.

Minuman keras dan pornografi mungkin menjadi kata kunci atas kematian Yuyun. Namun budaya Patriarki adalah akar dari masalah ini. Jika ke-14 pemuda itu dari kecil dididik untuk menghargai perempuan, mereka tidak akan melakukan tindakan keji itu bahkan saat mabuk sekalipun. Keperdulian pemerintah pusat dan daerah terhadap perempuan dan anak menjadi sangat penting saat ini. Tanpa kerjasama dari semua pihak, mustahil untuk memutus mata rantai kasus Yuyun, yaitu menghilangkan budaya patriarki dari mindset masyarakat.

Lalu salah siapa hal ini terjadi? Ke-14 pelaku pantas mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka yang sangat keji. Namun, kita harus memutus mata rantai kejadian ini agar tidak lagi muncul “Yuyun baru” di seluruh pelosok Indonesia. Banyak anak perempuan seumuran Yuyun atau bahkan lebih tua dari Yuyun takut jika pergi ke luar rumah sendirian. Mereka merasa sudah tidak aman dan nyaman tinggal di Negaranya sendiri. Mereka tidak aman dirumah mereka sendiri.

Perlu perhatian khusus atas kejadian kasus Yuyun ini. Pemerintah perlu bertindak secara tepat untuk menghentikan mata rantai dari kasus ini agar budaya pemerkosaan tidak menjadi trend baru bagi kalangan remaja di daerah lain.

Jadi, mulai sekarang STOP menanamkan budaya Patriarki pada kehidupan generasi sekarang. STOP untuk tidak peduli dengan budaya yang salah. Karena ketidakpedulian kita telah menimbulkan korban jiwa. Ketidakseriusan kita telah menghilangkan banyak nyawa perempuan dan gadis dibawah umur.


“Peristiwa ini sangat diluar batas kemanusiaan,” kata Wakil Ketua LPSK Hasto Atmojo Suroyo. Mendengar kata-kata itu munculah rasa penasaran, apa yang sebenarnya terjadi? Kejadian tragis dan tidak berperikemanusiaan menimpa gadis malang bernama Yuyun. Usianya masih 14 tahun, baru saja menginjak bangku SMP di Bengkulu, Sumatera Selatan. Nahas, nyawanya direnggut oleh 14 laki-laki tak bertanggung jawab dengan brutal.

Kasus Yuyun sangat keji. Betapa tidak, Yuyun diperkosa ramai-ramai sampai tewas.  Kaki Yuyun dipotong kemudian jenazahnya dibuang. Pada hari Sabtu, 2 April 2016, Yuyun yang sedang menempuh perjalanan pulang sekolah pada siang hari melintasi kebun karet di daerah Lembak, kabupaten Rejang Lembong, Bengkulu bertemu dengan 14 pria mabuk. Awalnya, para pria menggoda Yuyun tetapi ia tidak menggubrisnya. Ketika salah seorang pemuda menarik tangannya, Yuyun bisa menepisnya. Tetapi, ketika empat pemuda lain menyeretnya ke kebun karet, ia tak mampu melawan. Sepuluh orang lainnya merobek seragam pramuka Yuyun dan memukul kepalanya dengan kayu. Yuyun pingsan.

Tak hanya itu penderitaan Yuyun, ia diperkosa secara bergiliran oleh 14 pria biadab sampai mati. Hasil visum dokter menunjukkan dubur dan kemaluan Yuyun rusak  akibat diperkosa pelaku. Sungguh imoral perbuatan para pria tersebut terhadap Yuyun. Mereka berpikir dan bertindak layaknya binatang, tidak memiliki akal budi dan hati nurani.  Bayangkan saja, beberapa dari pelaku memperkosa Yuyun berulang kali. Bahkan ada yang sampai tiga kali. Meski pada saat Yuyun sudah tak bernyawa, pelaku tetap meluncurkan aksi bejatnya. Mereka tidak sadar Yuyun telah mati saat  diperkosa. Sebagai manusia yang masih memiliki hati dan akal budi, apakah Anda mampu menerima hal ini? Melihat dan mendengar gadis kecil, masih polos dan muda, meninggalkan dunia dengan cara yang sungguh tak layak.  

Mengapa perempuan yang selalu menjadi korban? Bukan hanya Yuyun, gadis berumur 18 tahun bernama Eno Parinah diperkosa oleh tiga pemuda di Tangerang. Tanpa hati nurani, pemerkosa ini membunuh Eno dengan memasukkan gagang cangkul ke liang kemaluannya hingga menembus paru-paru. Apa yang salah dengan negeri ini? Dimana pikiran mereka semua? Budaya Patriarki telah meresap begitu dalam di kehidupan manusia hingga mereka kehilangan moralitas. Kekuasaan laki-laki pada aspek kehidupan menyebabkan muculnya tindakan subordinasi yang diluar batas kewajaran. Kerugian terletak pada kaum wanita yang dipandang sebelah mata, dianggap sebagai objek kekerasan. Apa karena perempuan lemah? Apa karena perempuan tidak berdaya? Saya sebagai perempuan merasa ngeri, betapa buruknya efek budaya Patriarki terhadap perempuan. Selalu perempuan yang dijadikan korban objek kekerasan dari para pria. Sungguh miris.  
Sebagian laki-laki menganggap bahwa kekuasaan dan kekerasan merupakan bentuk kemampuan dalam mendominasi dan mengendalikan orang lain. Menurut Michael Kaufman, seorang aktivis di Kanada yang memimpin kampanye “Pita Putih”, mengungkapkan faktor-faktor di balik kekerasan terhadap perempuan. Sedikitnya ada tiga faktor yang merupakan amunisi laki-laki dalam memperlihatkan otoritasnya, yaitu kekuasaan patriarki (patriarki power) dan hak-hak istimewa (privilege). Kekuasaan Patriarki adalah faktor yang memiliki andil besar terhadap kekerasan perempuan. Dalam budaya Patriarki terjadi subordinasi dan kesenjangan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan serta dominasi. Kekerasan terhadap perempuan senantiasa langgeng terjadi karena perempuan dengan tubuhnya seringkali dijadikan sebagai objek, makhluk sekunder, dapat diperlakukan seenaknya dan dapat menjadi hak milik seseorang.
Dalam kasus Yuyun, pelaku ingin menunjukkan otoritasnya dengan melakukan tindakan semena-mena. Mereka ingin dipandang sebagai seorang manusia yang kuat dan mampu menindas kaum yang lebih lemah. Kekuasaan patriarki ditunjukkan oleh pelaku yang semuanya adalah laki-laki melalui tindakan mereka. Para pelaku memanfaatkan hak istimewa mereka sebagai lelaki yaitu kekuasaan dan dominasi atas apapun yang diinginkan. Mereka ingin memuaskan nafsu bejat dan perempuan merupakan korban yang lunak. Dengan memiliki paradigma laki-laki sebagai makhluk superior didorong dengan pengaruh alkohol dan pornografi membuat para pelaku hilang kesadaran dan bertindak diluar batas kemanusiaan.
Sungguh biadab perbuatan para pelaku. Seharusnya mereka, sebagai senior mampu menjaga Yuyun sebagai junior mereka, bukan malah memperkosa dan membunuhnya. Apakah ini gambaran masa depan generasi penerus kita? Emosional, kekerasan, narkoba, minuman keras dan seks bebas. Apakah kita tidak bisa melahirkan generasi bermoral? Lalu siapa yang harus disalahkan? Siapa yang harus bertanggung jawab atas kejadian ini?

Pemerintah memang sudah menunjukkan keperdulian mereka terhadap kasus ini dengan menerjunkan langsung Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yambise yang sudah mengunjungi keluarga Yuyun untuk memberikan dukungan baik secara moral maupun materi kepada keluarga Yuyun yang merasa trauma atas kejadian ini. Namun, implementasi dari regulasi yang ditetapkan Pemerintah tentang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak masih sangat minim.

Minuman keras dan pornografi mungkin menjadi kata kunci atas kematian Yuyun. Namun budaya Patriarki adalah akar dari masalah ini. Jika ke-14 pemuda itu dari kecil dididik untuk menghargai perempuan, mereka tidak akan melakukan tindakan keji itu bahkan saat mabuk sekalipun. Keperdulian pemerintah pusat dan daerah terhadap perempuan dan anak menjadi sangat penting saat ini. Tanpa kerjasama dari semua pihak, mustahil untuk memutus mata rantai kasus Yuyun, yaitu menghilangkan budaya patriarki dari mindset masyarakat.

Lalu salah siapa hal ini terjadi? Ke-14 pelaku pantas mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka yang sangat keji. Namun, kita harus memutus mata rantai kejadian ini agar tidak lagi muncul “Yuyun baru” di seluruh pelosok Indonesia. Banyak anak perempuan seumuran Yuyun atau bahkan lebih tua dari Yuyun takut jika pergi ke luar rumah sendirian. Mereka merasa sudah tidak aman dan nyaman tinggal di Negaranya sendiri. Mereka tidak aman dirumah mereka sendiri.

Perlu perhatian khusus atas kejadian kasus Yuyun ini. Pemerintah perlu bertindak secara tepat untuk menghentikan mata rantai dari kasus ini agar budaya pemerkosaan tidak menjadi trend baru bagi kalangan remaja di daerah lain. Jadi, mulai sekarang STOP menanamkan budaya Patriarki pada kehidupan generasi sekarang. STOP untuk tidak peduli dengan budaya yang salah. Karena ketidakpedulian kita telah menimbulkan korban jiwa. Ketidakseriusan kita telah menghilangkan banyak nyawa perempuan dan gadis dibawah umur.